Penyakit Hati Pengikis Amal Kebaikan

■ NAFSU TERSEMBUNYI ■
Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik.

Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak.
•••••••••••••••••••••••●●●●
Menuturkan episode hidupnya Ahmad bin Miskin bercerita:

Aku pernah diuji dg kemiskinan pd th 219 Hijriyah. Saat itu, aku sm sekali tidak memiliki apapun, smntr aku harus menafkahi seorang istri & seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari2 kami.

Maka aku berazam utk menjual rumah & pindah ke tempat lain. Akupun berjalan jln mencari orang yg bersedia membeli rmhku.

Bertemulah aku dg sahabatku Abu Nashr & kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan & berkt: “berikan makanan ini kpd keluargamu.”

Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dg seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dg memelas dia memohon:

“Tuanku, anak yatim ini blm makan, tak kuasa terlalu lm menahan siksa lapar. Tolong beri dia sesuatu yg bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan.”

Smntr itu, si anak menatapku polos dg tatapan yg takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan akalku dlm khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkn dirinya kpd siapapun yg ingin meminangnya, dg mahar mengenyangkn anak yatim miskin & ibunya ini.

Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yg ada ditanganku. “Ambillah, beri dia makan”, kataku pada si ibu.

Demi Allah, pdhl wkt itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rmh, klgku sangat mmbutuhkn makann itu.

Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata &si kecilpun tersenyum indah bak purnama.

Kutinggalkan mrk berdua & kulanjutkn langkah gontaiku, smntr beban hidup terus bergelayutan dipikiranku.

Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkn rencanaku menjual rumah.

Dlm posisi spr itu, tiba2 Abu Nashr terbang kegirangan mendatangiku.

“Hei, Abu Muhammad! Knp kau duduk2 di sini sementara limpahan harta sdg memenuhi rumahmu?”, tanyanya.

“Subhanallah….!”, jawabku kaget. “Dari mn dtgnya?”

“Tadi ada pria dtg dr Khurasan. Dia bertanya tanya tentang ayahmu atau siapapun yg punya hubungan kerabat dgnya. Dia mmbw berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta”, ujarnya.
“Terus?”, tanyaku keheranan.
“Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kpdnya harta yg telah ia kumpulkn selama 30 th. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu.

Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melajit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dg limpahan kekayaan.

Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf & memohon keikhlasan ayahmu atau klgnya atas kesalahanya yg lalu.

Maka skrng, dia dtg membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yg telah dia kumpulkan selama 30 th berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kpdmu, berharap ayahmu & klgnya berkenan memaafkannya.”

Mengisahkan awal episode baru hidupnya, Ahmad bin Miskin berujar :

“Kalimat puji & syukur kpd-Nya berdesakan meluncur dr lisanku. Sbg bentuk syukurku, sgr kucari wanita faqir & anaknya tadi. Aku menyantuni &  menanggung biaya hdp mereka seumur hdp.

Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkn diri dg kegiatan sosial, sedekah, santunan & berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, dia terus bertambah ruah tanpa berkurang.

Tanpa sadar, aku merasa takjub dg amal salihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dg hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dlm diri, bhw namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dlm dftr orang2 shalih.
••••••••••••••••••••••••●●●●
Suatu mlm, aku tidur & bermimpi.
Aku lihat, diriku tengah berhadapan dg hr kiamat.
Aku jg lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk & berbenturn satu sm lain.

Aku jg lihat, badan mrk membesar. Dosa2 pd hr itu berwujud & berupa, & setiap orang memanggul dosa2 itu masing2 di punggungnya.

Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yg memanggul di punggungnya beban bsr seukuran KOTA (kota tempat tinggal, pent), isinya hanyalah dosa2 & hal2 yg menghinakan.

Kmdn, timbangan amal pun ditegakkan, & tiba giliranku utk perhitungan amal.

Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu daun timbangan, sdngkan amal baikku di daun timbangan yg lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih brt drpd amal baikku.

Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mrk mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yg pernah kulakukan.

Namun alangkah ruginya, ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adl riya, ingin dipuji, merasa bangga dg amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tdk ada satupun amalku yang lepas dt nafsu nafsu itu.

Aku putus asa.
Aku yakin aku akan binasa.
Aku tdk punya alasan lagi utk slmt dr siksa neraka.

Tiba-tiba, aku mendengar suara, “masihkah orang ini punya amal baik?”

“Masih”, jawab seseorang. “Masih tersisa ini.”

Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yg masih tersisa?
Aku berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH dua lembar roti isi manisan yg pernah kusedekahkan kpd wanita fakir & anaknya.

Habis sudah harapanku.
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi jadinya.

Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas), & itu tdk berguna sedikit pun. Aku merasa benar2 tertipu habis2an.

Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, & terus bergerak turun sampai sampai lebih brt sedikit dibandingkan timbangan kejelekan.

Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku. Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yg mengalir saat aku berikn sedekah. Air mata tak terbendung yg mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yg kala itu lbh mementingkn dia & anaknya dibanding klgku.

Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun & terus turun. Hingga akhirnya aku mendengar seseorang berkt, “Orang ini telah slmt.”

Adakah terselip dlm hati kita hawa nafsu ingin dilihat hebat oleh org lain pada amal2 perbuatn kita?

Buang skrg keinginan itu.. biarkn hanya utk Allah saja. Krn sgl sesuatu yg selain karena-Nya hanya tipuan kosong belaka.
Astaghfirullah….

*sumber: BC dari grup whatsapp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s