Kisah penggugah jiwa, miracle of “sabar”

The Miracle Of “Sabar”
________________________

Ramadhan mulai menunjukan sayap-sayap anggunnya. Tak ragu lagi fajar penuh keberkahan itu menyingsing di sebelah timur semenanjung arabia, kota Riyadh, masha Allah… ahlan ya Ramadhan. Pohon kurma seperti bahagia, mereka berbuah lagi, sebentar lagi ranum menyambut Ramadhan di kota ini.

Kota ini adalah lautan inspirasi bagiku, di mana atas izin-Nya pena ini mulai kugoreskan diawal 2010 lalu. Banyak inspirasi yang melintasi kota dihatiku. Sebenarnya, tulisan-tulisan itu hanya ungkapan terimakasih saja.

Ungkapan bahagia atas kemerduan hidayah-Nya, saat inspirasi demi inspirasi itu datang bertaburan menyentuh dan menggetarkan dinding hati yang berdebu penuh noda dan dosa. Hingga, terlintas rasa ingin untuk mencatatnya, sekedar pelepas dahaga jiwa sesiapa saja yang dikehendaki- Nya. Selebihnya saya hanya hamba Allah biasa saja, cendrung lemah dan berubah.

Ditengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan bayak kisah. Kota ini menyimpan rahasia-rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga- telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, hidayah adalah kehendak- Nya dan ia hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya dengan penuh kesungguhan.

Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang hingga saat ini masih melekat dan membekas, cerita itu kudengar diramadhan 1432 Hijriyah dari seorang sahabat Muslim dari Srilanka yang berkerja di sini. Ia adalah Chef atau juru masak yang bekerja denganku di InterContinental Riyadh Hotel.

Sungguh cerita itu membuat mataku berkabut. Bahkan air mata itu serasa ingin menetas lagi disetiap saat aku membacanya kembali, atau ketika menulisnya dicatatan harian. Sungguh aku telah merasakan pancaran energinya yang memperkokoh jiwa dan kesabaran.

Entahlah dari mana saya harus memulainya. Saya tidak ahli dalam bercerita, tapi ini adalah cerita nyata yang benar benar harus kalian dengar..! Sebuah cerita nyata, dari keajaiban sabar yang mengagumkan.

A True Story, The Miracle of “Sabar”

Hidup di luar negeri itu memang berat, bisa jadi teramat berat jika kita tidak memiliki keahlian tertentu yang membuat diri kita memiliki ‘nilai jual’. Bekerja di luar negeri itu keras, apa lagi berada di antara kerasnya nuansa timur tengah. Jika masih ada pilihan lain, sebaiknya jangan mencoba menjatuhkan pilihan di negeri yang tak ramah ini. Negeri sendiri adalah tempat terbaik yang tidak akan pernah tergantikan.

Teman saya, ia berasal dari pedalaman Sri Lanka mengatakan “di desa itu justru indah. Di sana kita bisa menanam padi untuk makan, di sana ada danau atau sungai di mana kita bisa mengambil ikan sebagai teman nasi, kalau kita butuh sayur juga tinggal tanam atau beli dengan harga murah..”

Saya bergumam dalam hati, “Iyah benar.. di Indonesia masih bisa santai saat AC mati, tapi di timur tengah? Kulit pasti tak akan tahan, udara rata- rata bisa hingga 50 derajat celcius.”

Negeri ini adalah hamparan gurun tandus, badai debu bisa datang kapan saja menyelimuti kota, menyesakan nafas dan memperpendek jarak pandang.

Di sini beda dengan suasana di Ciwalk – di kota Bandung yang disetiap sore hingga malamnya seru dengan pejalan kaki santai. Si akang tukang cireng laris dikerumuni remaja dan mahasiswa hingga larut malam.

Di kota ini tidak ada pedagang asongan, dan jangan harap bisa menemukan warteg atau warung kopi dengan canda-canda ringan di sore hari. Di kota ini bahkan hampir tidak terlihat pejalan kaki, tidak ada mikrolet atau angkot kuning. Di sini hanya ada taksi-taksi dengan kehidupan jalanan kota yang tak ramah, belantara kota dengan gedung-gedung yang berdiri garang dan angkuh. Tak ada celah bagi sang pejuang yang belum memiliki kesiapan dan segala keahlian untuk menaklukannya.

Tapi meski demikian, banyak para pekerja yang datang ke negeri ini. Di hotel tempat saya bekerja misalnya, terdapat sekitar 700 orang dari 17 Negara berbeda. Saya mengenal banyak dari mereka. Beberapa dari mereka adalah dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Sebagian dari mereka dari suku Arab yang tinggal di benua Afrika. Salah satunya adalah seorang teman dari Negara Sudan, Afrika. Saya mengenalnya dengan nama Ammar Musthafa, dia salah satu Muslim kulit hitam yang juga bekerja di Hotel ini.

Namun beberapa bulan terakhir ini saya tidak lagi melihatnya berkerja. Biasanya ia terlihat bekerja dengan pekerja lainnya menggarap proyek renovasi hotel di tengah terik matahari kota riyadh yang membakar.

Hari itu Ammar tidak terlihat. Karena penasaran, saya coba tanya kepada Iqbal tentang kabarnya. Iqbal adalah teman saya, seorang Muslim dari Srilanka tadi.

“O kamu tidak tahu?”. Jawab Iqbal balik bertanya saat tanya, dengan bahasa Ingris khas Indianya yang bercampur dengan dialek urdhu yang pekat.

“Iyah beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?” Jawab saya.

Selepas itu, tanpa saya duga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti berusaha memanggil kembali sosok teman yang beberapa waktu tinggal menumpang di kamar apartemennya di kota ini. Saya mendengarkan dengan seksama.

Ternyata Amar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004. Ia datang ke Negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di Kota ini.

Saudi Arabia memang memberikan visa gratis untuk Negara-Negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi amar bisa bebas mencari kerja di sini asal punya Pasport dan tiket.

Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Doa Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah-pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman-temannya.

Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan untuk keluarganya di Sudan. Ia tetap mencari celah dan kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.

Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat. Bulan ketiga hingga tahun-tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah-pindah di Kota ini. Bekerja di bawah tekanan panas matahari dan suasana Kota yang garang. Amar tetap bertahan dalam kesabaran.

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, di hutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah-buahan atau seteguk air dingin bersih meski dari sungai. Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia. Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Dihampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Di sini hanya terlihat kurma-kurma yang berbuah satu kali dalam setahun.

Amar seperti terjerat di belantara Kota ini. Pulang ke Sudan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya. Itu adalah tekadnya hingga Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan dahaga untuk raganya di sini.

Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan haus dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya yang menanti di negeri Sudan.

Namun Ammar pun Manusia. Ditahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, lima tahun sudah ia berpindah-pindah kerja dan numpang di teman-temannya. Tapi kehidupannya tidak kunjung berubah.

Dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke Sudan. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski hingga kini sakunya masih tetap kering. Hingga hari-hari terakhirnya di kota ini, ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri mengutarakan keinginannya untuk pulang itu kepada sahabat terdekatnya. Dan salah satu teman baik amar memahaminya, ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan.

Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja. Ia pergi ke sebuah agen di jalan Olaya – Riyadh, untuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini sulit didapat karena imbas konflik di Libya, Negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.

Ammar pun membeli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan.

Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu.

Adzan dzuhur bergema menggetarkan kota ini. Seperti biasa setiap adzan berkumandang, semua toko-toko, supermarket, bank dan kantor pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security kota berjaga-jaga di luar kantor-kantor, menunggu hingga waktu shalat berjamaah selesai.

Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu masuk masjid, shalat dua rakaat untuk menghormati masjid.

Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah. Hanya disetiap shalat itulah dia merasakan kesejukan, ia merasakan terlepas dari beban Dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan disetiap menit dan sujudnya. Di sanalah ia mengadu kepada kekasihnya. Ia mewarnai setiap sujudnya dengan isakan ketulusan, menghambakan dirinya kepada Allah SWT.

Pesta dzuhur telah selesai. Ammar masih bingung untuk memulai langkah. Penerbangan masih seminggu lagi. Ditangannya hanya ada selembar tiket. Sakunya telah kering dari minggu lalu, semua uang yang ia dapati dari hasil kerjanya satu bulan terakhir dikirim kerumah untuk makan anak anak dan istrinya.

Ia diam. Dilihatnya beberapa mushaf Al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar masjid yang kokoh itu. Ia mengambil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan menikmati Al Qur’an hingga adzan Ashar tiba menyapanya.

Selepas Maghrib ia masih di sana. Beberapa hari berikutnya, ia memutuskan untuk tinggal di sana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.

Ammar memang telah terbiasa bangun awal disetiap harinya. Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu. Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa-jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa.

Adzannya memang khas. Hingga sanggup memanggil sesiapa saja yang terbangun dan dianugerahi kenikmatan untuk meramaikan semarak subuh di kota ini, bukan sebuah kebetulan jika Prince di kota itu juga terpanggil untuk shalat Subuh berjamaah di sana.

Adzan itu ia kumandangkan disetiap pagi, disisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh. Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Ditiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya.

Hari itu Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.

Amar sudah duduk di ruang tunggu di bandara. Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, 15 menit sudah berlalu dari jadwal ia terbang. Kecemasan mulai meliputinya. Hatinya pilu, ia harus pulang ke negerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidaklah sebentar, meski demikian ia tetap berusaha untuk tegar. Lima tahun itu ia lalui dengan sisa-sisa kesabarannya, ia lega karena sudah berusaha semaksimal mungkin. Ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan.

Ia tidak pernah mencemari kedekatannya dengan pemilik Alam semesta ini dengan keluhan. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban- kewajibannya, sebagai Hamba Allah, sebagai Imam dalam keluarga dan Ayah buat anak-anaknya.

Di antara lamunan kecemasannya, ia dikejutkan oleh suara yang memanggil-manggil namanya. Suara itu datang dari speaker di bandara tersebut, rasa kagetnya belum hilang Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya.Mereka kemudian membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”.

Ammar pun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah putra atau keturunan Raja, kerajaan Saudi Arabia tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini. Mereka memiliki Palace atau Istana masing-masing.

Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di Masjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu, di sana pengelola masjid itu menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan Adzan fajar yang biasa ia lantunkan.

Setiap kali Ammar adzan Prince selalu bangun dan merasa terpanggil. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar lagi, Prince merasa kehilangan. Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang ke negerinya Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang.

Ammar sudah berhadapan dengan Prince. Prince menyambut Ammar di rumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan?

Amar pun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini, tapi tidak pernah mendapatkan kesempatan kerja dengan gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya.

Prince mengangguk-nganguk, ia bertanya: “Berapakah gajihmu dalam satu bulan?”

Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan-bulan tanpa gaji dinegeri ini.

Prince memahaminya dan ia bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu terima?”

Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun kebelakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu bercampur ragu, “Hanya SR 1.400”, jawab Ammar.

Saat itu juga sang Prince langsung mengeluarkan titah kepada sekretarisnya untuk menghitung uang. 1.400 Saudi Riyal itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 atau setara dengan Rp. 184. 800.000. Disaat bersamaan, bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Ammar.

Tubuh Amar bergetar melihat keajaiban di hadapannya. Belum selesai bibirnya mengucapkan Al Hamdalah. Prince berhati mulia itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata:

“Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilall di masjidku.. hiduplah bersama kami di palace ini”

Ammar tidak kuasa lagi menahan air matanya. Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar nilainya di Negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh-sungguh memperhatikannya, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.

Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari di siang hari yang membakar kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak. Semua berubah dalam sekejap!

Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah. Nothing is imposible for Allah, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Bumi inipun milik Allah, alam semesta, hari ini dan hari akhir serta hari akhirat berada dalam Kekuasaan-Nya. Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan.

Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Sungguh ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.

Tidak sadar saat itu mata saya berkaca-kaca, Iqbal yang bercerita pun terlihat mengeluarkan sapu tangan dan mengusapkan ke wajahnya. Subhanallah, seperti itulah buah dari kesabaran.

“Karena Sabar Itu Tak Ada Batasnya!”

Jika saja sabar itu mudah, tentu semua orang pun bisa melakukannya. Jika engkau masih berkata “sabar itu ada batasnya”, cukuplah itu pertanda yang jujur bahwasannya engkau memang belum mampu untuk bersabar.

Sabar itu mahal, karena Syurga-Nya itu bukanlah sesuatu yang murah. Sabar itu tak ada batasnya, karena kenikmatan Syurga-Nya pun tanpa batas. Begitupun dengan dunia ini, semuanya kadang serba tak terduga, karena keindahan Syurga-Nya pun tidak pernah terlintas dalam benak manusia. Sabar pun tidak berbatas, batasnya tidak ada di dunia ini, batasnya hanya ada di sana, di dekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan-Nya.

Dunia ini hanyalah persinggahan, selagi kita singgah maka nikmatilah seadanya. Nikmatilah dan jangan lupa, bahwa persinggahan sementara yang indah ini akan kita tinggalkan untuk selama-lamanya. Keseluruhan hari kita di dunia ini hanyalah persiapan menuju kota akhirat yang kekal.

Bersabarlah, pasti ada hikmahnya! Jangan tergesa membuat kesimpulan, mengeluh atas ujian demi ujian yang menamparmu. Keluhan itu bagaikan racun yang menggenang di lembah hatimu. Mengungkapkannya kepada manusia berarti menebarkan racun itu keseluruh tubuhmu, berhati-hatilahmungkin keluhan itu hanyalah irama dari bait-bait penentangan halus teruntuk Tuhanmu.

Ingat, ujian demi ujian itu tak ubanya sebuah pemacu agar engkau tetap semangat dan terbangun. Bencana yang menimpa bukanlah untuk menghancurkan semangatmu, namun untuk mengukuhkan imanmu, menguatkan pilar-pilar keyakinanmu. Allah SWT memberikan ujian itu semata agar kita ingat kepada-Nya, sentuhan lembut agar kita tidak bosan dengan kehidupan ini. Karena saat kita baik-baik saja, kita cendrung terlupa dan melupakan-Nya.

Yah, perhatikanlah ketika salah satu gigi kita sakit, di sanalah biasanya kita baru menyadari seberapa penting harga dan arti gigi tersebut. Beda saat gigi itu sehat, kita cendrung lupa dan melupakan fungsinya yang hebat. Saat jari kita terlukalah, kita menyadari betapa pentingnya arti kehadiran dan kerja sama jari-jari tersebut dan begitulah seterusnya.

Jika hidup mulai terasa tidak adil, saat engkau merasa tak ada yang peduli dengan dirimu, maka ingatlah Rabb-mu masih ada di sana memperhatikanmudengan senyum penuh kerahmatan. Hanya saja kita yang terlupa, hingga akhirnya Dia melupakanmu.

Memang tidak dipungkiri, ada saatnya kita merasakan diri terjebak dalam satu hal tersulit. Di sana seakan tidak ada celah dan penolong! Tapi sesungguhnya, jika tepat pada saat itu kita menyadari bahwa Allah masih ada di sana, lalu kita memanggil-Nya maka sesungguhnya Allah tidak pernah berpaling sedekitpun dari kita.

Allah SWT Berfirman: “Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Q.S.Al- Fushilat: 35)

Allahuakbar! Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

————
Oleh : Ust. Nuruddin Al Indunissy

Semoga bermanfaat.

Sumber :
http://www.belajarruqyah.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s